Dewasa ini sudah banyak DVD player yang support playback untuk file AVI. DVD jenis ini sudah banyak beredar di pasaran, biasanya juga disertai dukungan port USB. Salah satunya adalah Philips DVP-3260K (seperti yang saya miliki). Hal ini tentu menyenangkan, karena kita bisa memutar file AVI yang biasanya hanya diputar di komputer. Selain itu bagi para kutu bandwidth, downloader film akan lebih mudah lagi bagi mereka untuk memutar film hasil download dari internet. Karena biasanya file yang dari internet berformat AVI.
Selain AVI, film yang didownload dari internet ada juga yang berformat MKV. Format ini lumayan baru (tapi tidak baru banget, dah agak lama) merupakan format file matroska. Biasanya file format MKV digunakan untuk film yang berkualitas tinggi, tipe-tipe HD Movie. MKV bisa diputar di DVD juga gak? Nah itu masalahnya… sepertinya belum ada yang menyediakan playback untuk MKV.
Yaaah… udah download gak bisa diputar di DVD donk… capeee deee… gimana siiy… gimana donk… payah nih… aaaah…. tempe niiy… saya jual kamu nanti… *maaf gara-gara chaos@work nih.. jadi ketularan*
Tenang… sabar… kan MKV nya bisa diubah menjadi AVI (bukan yang di Indosiar loh ya…). Ini saya mau ceritain gimana caranya mengubah MKV menjadi AVI, siapkan buku catatan kalian…
Sebenarnya pengalaman saya merubah MKV menjadi AVI ini agak2 berliku (biar dramastis dikit). Setelah melewati beberapa kali riset dan benchmarking beberapa aplikasi converter, akhirnya saya menemukan satu aplikasi yang menurut saya “user friendly a.k.a mudah digunakan”, kinerjanya cepat, dan fiturnya cukup lumayan, serta yang terpenting hasilnya OK dan bisa diputar di DVD. Karena ada beberapa converter yang hasilnya setelah saya coba putar di DVD player ternyata tidak bisa.
Nama Converter pilihan saya tersebut adalah “SUPER”, buatan “eRightSoft“. Aplikasi ini bisa didownload gratis dari internet ( gratis… enak to.. asyik to.. manthab to…). Ok, berikutnya jika sudah mendapatkan aplikasi SUPER sekarang saatnya hands on… workshop dimulai…
Berikut adalah tampilan dari SUPER

SUPER
Beeeeuuuh…. katanya user friendly, mudah digunakan kok tampilanya ruwet ribet gitu…
Tenang… tidak semua parameter seting harus kita pahami… tapi lebih baik emang paham sih. Tapi saya juga gak paham semuanya, berhasil convert ke AVI dan bisa diputar di DVD (hahaha dasar tempe..).
Ok kita mulai…
Pertama pilih output containernya adalah AVI (karena kita mau convert ke AVI). Output video codec dan audio codecnya saya biarkan defaultnya saja, yaitu video codec:MPEG-4 dan audio codec:MP3. Terus FFmpeg or Mencoder juga saya biarkan apa adanya (karena saya gak ngerti apaan tuh… hahahaha)
Berikutnya video scale size, ini adalah scala perbandingan skala videonya. Untuk video scale size ini saya pilih 384:288. Jika ingin video hasil convert nanti skala videonya sama dengan file MKV nya, pilih saja “no change”. Aspect adalah skala perbandingan ukuran di layar, apakah nanti ingin menjadi widescreeen, full biasa. Disini saya pilih 4:3, ikut setingan yang ada di DVD player saya. Frame/Sec biasanya rekomendednya minim 25 fps. Triknya untuk Frame/Sec ini adalah lihatlah properti file MKV yang sudah didownload. Lihat berapa fpsnya, nah sesuaikan saja dengan file MKV tersebut. Bitrate adalah video codec bitrate, semakin tinggi kualitas videonya akan semakin bagus, tentunya ukuran file hasilnya nanti akan semakin besar. Di bagian options pilih Hi Quality.
Untuk Sampling freq audio saya pilih 22050 (jangan tanya kenapa, saya juga gak tau udah kepilih segitu). Channels digunakan untuk apakah nantinya suaranya stereo atau mono. Saya pilih stereo. Audio bitrate sama seperti video bitrate, semakin tinggi semakin bagus. Biasanya saya pilih 112 atau 96. Untuk language saya pilih default saja.
Nah selanjutnya masukkan file MKV nya… bisa dengan drag n drop file MKV tersebut, atau klik kanan trus pilih add multimedia files. Jika sudah masuk, saatnya mengconvert… klik deh tombol encode (active files).
Tinggal tunggu saja… hingga selesai… copy ke flash disk, atau burn ke CD lalu mainkan di DVD
Selamat mengconvert….
Siapa sih yang tidak menginginkan proyek yang dikerjakanya bisa diselesaikan dengan baik, berhasil mendapatkan keuntungan. Semua orang atau komponen yang terlibat dalam pengerjaan suatu proyek pasti menginginkan hal tersebut, terutama bagi sang manajer proyek. Karena manajemen proyek seringkali menjadi batu loncatan untuk promosi, di sisi lain menangani suatu proyek yang gagal dapat merusak karier.
Dalam tingkatan tertentu, keberhasilan proyek bergantung kepada watak kepribadian seperti kejujuran, toleransi terhadap ambiguitas, dan keterbukaan. Yang tidak kalah penting adalah memberikan perhatian terhadap komunikasi, mendokumentasikan proses proyek, dan memahami keperluan kustomer dan bisnis. Untuk itulah diperlukannya sebuah kerjasama yang solid antar komponen tim.
Seringkali anggota tim, pimpinan tim maupun manajer proyek kerap tergoda untuk mengerjakan sendiri suatu proyek, hal ini terjadi biasanya jika terjadi kegamangan dalam tim, kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan anggota tim. Hindarilah godaan ini, karena anda bukanlah manusia super yang dapat mengetahui segala hal, dan tim dibentuk karena pemilik proyek percaya bahwa cara mencapai target atau menyelesaikan masalah yang paling baik adalah dengan mengumpulkan orang-orang dengan perspektif berbeda. Orang-orang bergabung dalam suatu tim dengan harapan bahwa mereka berada di sana karena suatu alasan, bahwa pengetahuan, pengalaman, atau kemampuan mereka dapat membantu tim itu untuk sukses. Jika peluang mereka untuk berkontribusi ditolak, mereka akan merasa tertipu.
Menemukan keseimbangan yang pas antara membiarkan orang atau anggota tim mengembangkan ketrampilan mereka masing-masing atau ikut campur agar tidak terjadi penundaan yang bisa mendatangkan masalah adalah salah satu hal paling sulit yang harus dilakukan para manajer proyek. Biarkanlah anggota tim mengembangkan rasa memiliki terhadap proyek yang dikerjakan sedari awal. Libatkan anggota tim dalam menentukan cakupan dan batasan suatu proyek.
Bersamaan dengan berjalanya proyek, sering seringlah membuat keputusan bersama anggota tim. Biarkan tim yang memutuskan kapan waktunya rapat, mengembangkan peraturan supaya anggota lebih berpartisipasi, penunjukan tanggung jawab proyek. Biarkan tim yang memutuskan bagaimana cara mengambil keputusan, kapan konsensus diperlukan, kapan menghargai orang yang memiliki keahlian tertentu, dll. Manajer proyek berada di sana untuk memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal dan memberikan bimbingan jika perlu. Ingat manajer proyek juga merupakan anggota tim.
Bukanlah ide yang baik jika anda mendefinisikan dan merencanakan proyek sendiri, lalu begitu saja menyerahkanya kepada anggota tim untuk diimplementasikan. mereka akan merasa bahwa mereka menjalankan rencana anda, bukan rencana tim, sehingga kinerja mereka mungkin akan terpengaruh.
Untuk membentuk suatu tim yang solid, seorang manajer proyek haruslah sering memberikan motivasi, supaya anggota tim yang dipimpinya menjadi lebih semangat. Tunjukkan bahwa semua orang mempunyai peranan yang penting dalam tim. Jelaskanlah kepada anggota tim apa yang menjadi tanggung jawab mereka dan bagaimana pekerjaan setiap orang merupakan sumbangan bagi keberhasilan tim tersebut dalam mengerjakan proyek. akui kontribusi yang biasanya tidak disadari, karena hal tersebut akan memberikan kejutan yang menyenangkan bagi tim. Tunjukkan rasa percaya anda kepada tim anda. Dengan membiarkan orang kebebasan yang bertanggung jawab untuk terus maju kadang akan memberikan rasa percaya diri bahwa mereka dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Berikan tugas-tugas yang menantang, pindahkan wewenang dalam pengambilan keputusan sedekat mungkin dengan mereka. Akuilah kinerja mereka yang bagus. Pastikan nama-nama anggota tim yang ikut memberikan kontribusi disebutkan dengan jelas dalam rapat tim dan setiap dokumentasi tim.
Selamat membangun tim yang solid… 
Tentunya kita sering mendengar istilah leadership. Seorang pemimpin yang baik haruslah mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat. Jiwa memimpin bukanlah suatu sikap yang hanya main suruh-suruh saja… jelas berbeda. Dalam leadership terkandung unsur management, keberanian yang bertanggung jawab.
Beberapa point dalam suatu sikap leadership/kepemimpinan antara lain:
- Kemampuan untuk merealisasikan tujuan organisasi dengan memberdayakan dan mendorong pihak lain untuk berkontribusi
- Berani mengambil sikap dan menyelesaikan permasalahan yang penting
- Bertindak sebagai katalisator dalam perubahan dan aktivitas continuous improvement
- Mengayomi atau memberi rasa nyaman bagi orang-orang di sekitarnya
- Menyiapkan kader kader tanpa merasa takut tersaingi
Customer Relationship Management (CRM)
Para ahli memiliki definisi yang berbeda-beda mengenai Customer relationship management (CRM). Secara umum, dapat disimpulkan bahwa CRM merupakan strategi dan usaha untuk menjalin hubungan dengan pelanggan dan memberikan pelayanan yang memuaskan bagi pelanggan.
CRM didefinisikan sebagai integrasi dari strategi penjualan, pemasaran, dan pelayanan yang terkoordinasi (Kalakota dan Robinson 2001). CRM menyimpan informasi pelanggan dan merekam seluruh kontak yang terjadi antara pelanggan dan perusahaan, serta membuat profil pelanggan untuk staf perusahaan yang memerlukan informasi tentang pelanggan tersebut (Laudon dan Traver 2002).
CRM mendukung suatu perusahaan untuk menyediakan pelayanan kepada pelanggan secara real time dengan menjalin hubungan dengan tiap pelanggan yang berharga melalui penggunaan informasi tentang pelanggan. Berdasarkan apa yang diketahui dari pelanggan, perusahaan dapat membuat variasi penawaran, pelayanan, program, pesan, dan media (Kotler 2003). Melalui sistem yang menerapkan CRM, perusahaan membentuk hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan, dimana perusahaan dapat mengetahui kebutuhan pelanggan dan menyediakan pilihan produk atau layanan yang sesuai dengan permintaan mereka.
Tujuan CRM (Kalakota dan Robinson 2001), yaitu:
1 Menggunakan hubungan dengan pelanggan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan
2 Menggunakan informasi untuk memberikan pelayanan yang memuaskan
3 Mendukung proses penjualan berulang kepada pelanggan
· Tahapan CRM
Ada tiga tahapan CRM, yaitu (Kalakota dan Robinson 2001):
1 Mendapatkan pelanggan baru (acquire).. Pelanggan baru didapatkan dengan memberikan kemudahan pengaksesan informasi, inovasi baru, dan pelayanan yang menarik.
2 Meningkatkan hubungan dengan pelanggan yang telah ada (enhance).. Perusahaan berusaha menjalin hubungan dengan pelanggan melalui pemberian pelayanan yang baik terhadap pelanggannya (customer service). Penerapan cross selling atau up selling pada tahap kedua dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dan mengurangi biaya untuk memperoleh pelanggan (reduce cost).
3 Mempertahankan pelanggan (retain).. Tahap ini merupakan usaha mendapatkan loyalitas pelanggan dengan mendengarkan pelanggan dan berusaha memenuhi keinginan pelanggan.
· Klasifikasi CRM
Aplikasi yang menerapkan CRM diklasifikasikan menjadi dua (Dyche 2002), yaitu:
1. CRM Operasional
CRM Operasional dikenal sebagai “front office” perusahaan. Aplikasi CRM ini berperan dalam interaksi dengan pelanggan. CRM Operasional mencakup proses otomatisasi yang terintegrasi dari keseluruhan proses bisnis, seperti otomatisasi pemasaran, penjualan, dan pelayanan.
Salah satu penerapan CRM yang termasuk dalam kategori operasional CRM adalah dalam bentuk aplikasi web. Melalui web, suatu perusahaan dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan. Beberapa contoh pelayanan yang diberikan melalui web, diantaranya (Greenberg 2002 dalam Turban et al. 2004):
- Menyediakan pencarian produk. Pelanggan sering kali mengalami kesulitan dalam mencari produk yang mereka inginkan, karena itu diperlukan fasilitas search
- Menyediakan produk atau pelayanan gratis, sesuatu yang dapat menarik pelanggan untuk mengunjungi web adalah tersedianya produk atau pelayanan gratis
- Menyediakan pelayanan atau informasi tentang penggunaan produk
- Menyediakan pemesanan on line
- Menyediakan fasilitas informasi status pemesanan
2. CRM Analitik
CRM Analitik dikenal sebagai “back office” perusahaan. Aplikasi CRM ini berperan dalam memahami kebutuhan pelanggan. CRM Analitik berperan dalam melaksanakan analisis pelanggan dan pasar, seperti analisis trend pasar dan analisis perilaku pelanggan. Data yang digunakan pada CRM Analitik adalah data yang berasal dari CRM Operasional.
March 12th, 2009 in
Management | tags:
CRM,
ICT,
Management |
9 Comments
Apakah kalian pernah ke Gallery Indosat? Pernahkan kalian memperhatikan monitor LCD TV yang biasanya banyak tertempel di gallery indosat? Pernah melihat iklan di TV tersebut yang bertajuk “Inside Indosat”? Jika pernah… Pernahkah kalian memperhatikan personel yang ada di iklan tersebut?
Hehehehe… ya.. di Iklan tersebut ada saya… *jadi malu* Di Iklan tersebut saya menjadi orang Indosat yang sedang memaintain server di ruangan server. Saya berpura-pura sedang “mengutak atik” server, menutup raknya kemudian berjalan. Lalu di frame yang lain terlihat saya sedang bersama 2 orang indosat lainya berdiskusi di depan layar monitor, tentunya mendiskusikan kondisi server melalui layar monitor tersebut.
Kok bisa sih ikutan di iklan Indosat?
jadi Begini ceritanya… pada suatu hari *halah biasa…* Pada waktu itu saya sedang mengerjakan project di Indosat. Saya memang bekerja sebagai vendor Consultantnya Indosat. Nah disaat sedang mengerjakan project tersebut (yang memang tidak hanya 1 atau 2 hari saja), di dekat ruangan yang saya gunakan sedang dilakukan proses shooting iklan yang saya ceritakan tadi. Nah… tiba-tiba saya diminta untuk ikutan dalam shooting iklan tersebut (karena ganteng kali ya… hehehe… ). Ketika saya bertanya iklan apaan, mereka pada saat itu juga bilang “untuk di gallery indosat”. ooo….
waktu berlalu… saya tidak begitu memperhatikan masalah iklan tersebut sudah tayang atau belum. Tiba-tiba kemarin kebetulan saya sedang ke gallery Indosat Blok M, untuk mengurus masalah tagihan Matrix saya. Pas lagi duduk menunggu giliran… saya tidak sengaja melihat ke layar LCD yang ada disitu, dan kemudian tha.. ta….. saya melihat diri saya sendiri di iklan indosat. Kaget…? sedikit.. Shock…? ah gak juga…? senang…? sedikit juga hehehe
Ya.. saya memang tidak terlalu surprise, cuman agak sedikit bengong.. karena shooting iklan itu sudah lama sekali. Atau sebenarnya tayangnya juga sudah lama, tetapi saya saja yang tidak tahu karena gak pernah nongkrong di gallery…
Ya… begitulah pengalaman saya menjadi bintang iklan *halah*. Jika ada yang tertarik untuk menggunakan saya membintangi iklanya bisa hubungi manager saya di nomor di bawah ini…. hehehehe…
February 28th, 2009 in
Obrolan | tags:
berita,
pribadi |
2 Comments